Sirkus Kontemporer Perancis di GKJ: Akrobat dan stamina yang mengagumkan


Jakarta/08 Juni 2010 - Dalam rangka Le Printemps Fra nçais 2010, Centre Culturel Français (CCF) Jakarta bekerjasama dengan Metro TV mempersembahkan sebuah pertunjukan sirkus kontemporer: « Appris par corps » Cie Un loup pour l'homme, pada hari Selasa 8 Juni 2010 di gedung Kesenian Jakarta pukul 20:00.
Dan Malam ini di Gedung Kesenian Jakarta,Infoonesia menyaksikan show sirkus contemporer dari Perancis. Panggung sederhana dengan penataan cahaya yang tidak gemerlap, dominasi warna hitam dan cahaya bohlam kuning, diiringi musik instrumental yang menyentuh. Panggung dikuasai oleh dua orang akrobatik sirkus kontemporer, Alex dan Frederique. Keduanya saling berkolaborasi dalam adegan pelukan, pijatan, dan saling mengangkat layaknya pertunjukan sirkus yang membutuhkan stamina luar biasa.
Pertunjukan tanpa jeda dari menit pertama sampai sekitar satu jam mereka melakukan berbagai gerakan mengangkat tubuh dengan dua tangan untuk nilai sempurna dari kekuatan. Juga permainan baju dengan saling tarik menarik. Beberapa adegan juga mengundang tawa seperti adegan saling berangkulan antara dua lelaki muda ini yang bisa diinterpretasikan sebagai hubungan homosexual, walau setelah acara selesai kedua pemain sirkus ini membantah bahwa jalan cerita adalah tentang sepasang homosexual.
Tetapi acungan jempol adalah yang paling tepat untuk stamina selama satu jam saling mengangkat beban tubuh masing masing dan menguasai keseimbangan, sangat mengagumkan.Setelah acara selesai diadakan sesi tanya jawab dikatakan bahwa inti jalan cerita Sirkus kontemporer ini adalah menggambarkan dua manusia kembar yang berpijak pada realita kehidupan dimana satu sama lain saling mebutuhkan walau dalam hubungan digambarkan tidak selalu harmonis tetapi diwarnai pertengkaran tetapi satu sama lain tetap saling menjunjung, digambarkan dengan mengangkat badan satu sama lain, sehingga pada akhirnya mereka selalu diikat oleh komitmen untuk membangun hubungan lebih baik satu sama lain.
Pertunjukan ini dipersiapkan dalam kurun 2,5 tahun, dan menurut Patric Perez dari CCF Jakarta, pertunjukan Sirkus Kontemporer ini adalah untuk menumbuhkan budaya seni baru yang sudah berkembang di daratan Eropa yaitu Sirkus Kontemporer yang mengandalkan stamina, akrobatik, tari serta jalan cerita yang diserahkan kepada masing masing penonton untuk menilainya.
Generasi muda Indonesia menurut Patrick Perez sudah terbuka dengan hal hal inovatif terutama di bidang seni, sebagai contoh tarian hip hop yang sudah dikuasai oleh banyak anak muda di Indonesia, demikian juga harapannya agar pertunjukan Sirkus Kontemporer ini bisa mendapat hati dari anak anak muda Indonesia untuk mempelajarinya.
Sinopsis:
Sirkus terkait langsung dengan « pertunjukan ». Jadi, secara harfiah dan sejamaknya,kita sulit memisahkan sirkus dari dunia hiburan semata. Padahal, apalah arti seni jika bukan seni yang menghibur hati?
Dua laki-laki bolak-balik menjatuhkan diri, bangkit lagi, susul-menyusul, saling panjat, saling cekal, saling cengkram, melarikan diri hingga nafas memburu. Gerakan mereka adalah refleksi sebuah hubungan manusia yang dahsyat sekaligus rapuh, dan
mendayagunakan perbendaharaan unsur-unsur tari, teater dan sirkus.
Ada kerentanan dan kekuatan pada duet yang rawan dan juga sarat keanggunan ini. Disini dikisahkan sebuah persaudaraan, dengan ambiguitasnya antara kelembutan dankebengisan, antara dorongan untuk berpadu dan godaan untuk membebaskan diri dari ikatan yang tak terelakkan lagi menyatukan mereka. Dengan penataan panggung yang semurni mungkin, tempat si "orang lain itu" merupakan satu-satunya cakrawala, kedua lakon berbakat mengungkap betapa peliknya hubungan yang kaya akan kemanusiaan.
Kelompok sirkus Un loup pour l'homme didirikan tahun 2005 ketika dua akrobat,Alexander Fray dan Frédéric Arsenault, ingin mewujudkan keinginan mereka sambil tetap melanjutkan pekerjaan mereka sebagai penerjemah untuk perusahaan lain. Mereka berdua adalah lulusan sekolah sirkus dari negara mereka masing-masing, satu di Prancis, satu di Kanada. Mereka bertemu tahun 2004 di perusahaan The Hendrik van der Zee. Dua pria ini mendirikan kelompok sirkus sendiri sebagai jawaban atas pencarian pribadi mereka di dunia akrobatik. Melalui pembacaan tubuh, olah raga, menelusuri setiap gerakan, mereka melalui proses eksplorasi disiplin mereka yang sebenarnya.Tahun 2006, mereka dinobatkan sebagai bakat muda terbaik di dunia sirkus. (Ans026/Copyright Infoonesia)













